Pergantian
TV Analog ke Digital, Apakah Efektif?
Dilansir
dari Liputan6.com (3/11/2022) Menkominfo Johnny G.Plate dalam acara “Posko Pemantauan Penghentian Siaran Analog”
yang dilaksanakan di kantor Kominfo yaitu untuk menghentikan siaran TV Analog. Beliau
terlihat menghitung mundur Analog Switch
Off (ASO) siaran TV Analog.
Pada
hari Rabu dan Kamis lalu siaran TV Analog di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) dimatikan
untuk berganti atau migrasi ke TV Digital. Diharapkan hal tersebut akan
memberagamkan konten penyiaran yang terdapat di televisi. Pergantian tersebut
merupakan salah satu bagian dari program pemerintah khususnya Kominfo dalam
memajukan bidang penyiaran. Menurut Johnny dalam wawancaranya yaitu beliau
menyebutkan bahwa dengan masuknya era digitalisasi akan memunculkan variasi
konten yang lebih menarik. Dalam wawancaranya tersebut,beliau juga mengatakan
bahwa hal tersebut dapat digunakan untuk mengangkat kultur serta budaya
nasional agar dikenal oleh manca negara. Selain pernyataan dari Kominfo,
pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum, dan Keamanan Indonesia
Mahfud MD menyebutkan bahwa pergantian tersebut merupakan amanat UU Nomor 11
tahun 2000 tentang Cipta Kerja yang mengahruskan untuk mengganti dari TV
Digital menuju TV Analog.
Lantas
manfaat pergantian TV Digital menuju TV Analog tersebut?
Pergantian
atau migrasi siaran TV analog ke digital akan membuahkan banyak manfaat bagi
masyarakat. Contohnya adalah masyarakat dapat menikmati kualitas siaran TV yang
jauh lebih baik dan lebih banyak saluran yang di temukan untuk menonton tv. Selain
itu manfaatnya adalah TV Digital dapat menggaet saluran lokal atau daerah yang
dapat mendukung industri elektronik.
Perbedaan
TV Analog dan Digital yaitu dilansir dari Kompas.com perbedaan dari keduanya
yaitu terletak pada sinyal yang ditransmisikan, kekuatan sinyal, cara transmisi
sinyal, format gambar. Dan resolusi. Jenis sinyal yang digunakan dalam TV
Analog sinyal video disebarkan lewat sinyal radio yang terbagi menjadi format
video dan audio. Namun pada TV Digital sinyal ditransmisikan dalam bentuk “bit”
atau data informasi serupa dengan cakram CD, DVD, dan Bluray. Tentu hal
tersebut sudah sekaligus mendukung gambar, warna dan suara. Untuk kekuatan
sinyal TV Analog dan Digital sama saja lebih tergantung pada jarak dan lokasi
dari pemancar sinyal televisi, tetapi pada TV Digital kekuatannya akan
berkurang jika jarak semakin jauh dari pemancar. Selanjutnya adalah perbedaan
kualitas gambar yang dihasilkan. Dibandingkan dengan TV Analog yang relosusi
gambarnya tidak bisa ditingkatkan, TV Digital untuk menghasilkan gambar lebih
jernih dan jarak pandang luas yaitu bisa menghasilkan resolusi HD (High Definition).
Respon
masyarakat terhadap program pemerintah ini juga menimbulkan banyak tanya
dibenak mereka. Pasalnya mereka yang berada di desa berbeda dengan orang yang
berada di kota. Bahwa tingkat pendidikan, dan pemikiran juga mempengaruhi
pengetahuan tentang pergantian dari TV Analog menuju TV Digital. Setelah peresmian
yang dilakukan oleh Kominfo menimbulkan was-was terhadap masyarakat wilayah
lain. Walaupun pergantian tersebut hanya dilakukan di wilayah Jabodetabek saja
tetapi pergantian juga akan berproses ke wilayah lainnya. Menkominfo
menyebutkan bahwa “Dari Jabodetabek ke Nusantara”. Hal ini membuat panik
masyarakat khususnya kalangan bawah atau rakyat miskin yang hanya mempunyai
hiburan menonton TV saja.
Mengingat
hal tersebut sosialisasi sudah dilaksanakan jauh-jauh bulan. Tetapi respon dari
masyarakat terhadap pergantian TV Digital ke Analog tersebut sangatlah kurang. Dilansir
dari Kalsesl.pos bahwa banyak sudah mengetahui hal tersebut, namun juga banyak
warga yang tidak merespon hal tersebut.
Namun,
jika ditelisik lebih dalam lagi, apakah itu memunculkan masalah baru?
Dilansir
dari Detik.net mantan menteri Komunikasi
dan Informatika (Menkominfo) periode 2009-2014 Tifatul Sembiring mengatakan
bahwa pergantian atau migrasi TV Analog ke Digital sudah direncanakan lama
sejak era SBY. Dan baru terlaksana di kemempinanan selanjutnya. Tetapi masalah
terjadi yaitu respon dari pengelola TV Swasta. Dilansir dari Kompas.com Hary
Tanoe mengaku merasa ditekan pemerintah agar perusahaan yang dikelolanya
tersebut berganti menjadi siaran digital. Beliau menyebutkan bahwa beliau
terpaksa dengan pemerintah untuk menghentikan siaran tersebut.
Didapat
dari akun instagram
“Maka
kami dengan sangat terpaksa mengikuti permintaan tersebut, meskipun masih tidak
paham dengan landasa hukum yang dipakai”
Selain
masalah tersbeut, masalah lain hadir sejak isu pergantian TV Analog ke TV
Digital tersebut. Masyarakat dihimbau untuk membeli STB (Set Top Box). Padahal jika ditelisik masyarakat enggan banhkan
belum memiliki STB.
Namun
dengan hal itu pemerintah akan membagikan STB tersebut secara gratis ke
masyarakat yang tidak mempunyai TV Digital namun dengan syarat keluarga miskin
hanya dengan menunjukkan NIK. Selanjutnya Kominfo akan mengecek secara online
dengan NIK tersebut. STB sendiri yaitu alat yang digunakan untuk menikmati
siaran TV Digital yang masih menggunakan TV Analog.
Untuk
saat ini banyak masyarakat yang membeli STB ataupun membeli TV Digital
alih-alih menonton acara kesayangan maupun yang hanya mengikuti pemerintah
karena takut jika tidak bisa menonton televisi lagi. Masyakarat membanjiri toko
elektronik mencari STB dari termurah hingga yang kualitasnya bagus.
Kesimpulan
yang saya dapatkan yaitu Kominfo sudah mengambil langkah baik untuk mengganti
TV Analog ke TV Digital. Saya merasa hal tersebut diambang batas efektif tidak
efektif. Walaupun sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu tetapi seharusnya
hal tersebut di kaji dalam lagi serta menampung respon masyarakat terhadap hal
tersebut. Pasalnya banyak masyarakat desa yang tidak paham jika TV Analog yang
dipunyainya tersebut harus diganti dengan TV Digital melalui STB (Set Top Box). Pemerintah harus
mengadakan sosialisasi secara menyeluruh ke seluruh Indonesia melalui
pemerintahan terkecil yaitu desa untuk memberitahukan hal tersebut. Juga memberikan
pelatihan dalam pemasangan STB serta cara agar masyarakat masih bisa menonton
TV dengan nyaman. Hal lain terkait pembagian STB gratis kepada rakyat miskin
patutnya didata ulang, karena adanya oknum yang menyunat dana pembelian STB
serta melebarkan pembagian STB tersebut secara merata.

Komentar
Posting Komentar