Cerpen 14/02/2022

 Setelah Lulus

Manusia pada dasarnya memang mempunyai rencana. Dari sekolah dasar sudah terdidik untuk merencanakan sesuatu kedepannya. Termasuk memilih cita- cita yang sesuai dengan apa yang kita mau. Dan rencana tidaklah semulus apa yang diharapkan, namun juga bisa saja karena pengaruh orang di lingkungan kita. 

Pada hari itu, sendu terpancar pada raut wajahku. Kebimbangan mulai tampak, bahkan rasa kecewa juga bercampur aduk. 

Tiba- tiba orangtuaku berbicara serius terhadapku 

"Mulai besok kamu harus berlatih". Ucap bapak 

Dengan wajah kebingungan aku bertanya 

"Berlatih apa pak?"

Ibu langsung menimpali pertanyaanku 

"Ya. Berlatih fisik seperti renang, lari, push up dan lainnya"

Bapak menimpali lagi 

"Awakmu arep tak daftarke dadi tentara" (Kamu mau saya daftarkan jadi tentara)

Aku berkata dalam hati 

"Hah, apa ini aku tidak paham dengan semua ini, kenapa tiba- tiba sekali" 

Dengan wajah masih kebingungan, aku menjawab 

"Aku lho baru lulus, kan harusnya punya persiapan yang matang"

"Makanya latihan, les renang, les fisik" Ibu menyaut 

Seketika hening, lalu obrolan teralih sekitika saat ada tamu. 

Masuk ke kamar dengan menghela nafas panjang, masih bingung dengan semuanya. Padahal aku baru saja menikmati euforia kelulusan yang beberapa bulan ini aku nikmati. 

Dulu, aku memang terdoktrin mempunyai cita- cita menjadi tentara wanita, yang terlihat gagah dan memang sangatlah keren dan itu menjadi motivasi aku sejak aku duduk dibangku SMP. Namun, saat aku memasuki masa SMA cita- cita itu seketika berubah. Mungkin karena pengaruh mencari jati diri. Bisa saja.

Dengan alih- alih ingin membahagiakan orangtua dan saudara, aku turuti semua keinginan mereka. Awal aku mulai berlatih fisik dan mengikuti banyak les privat untuk bekal tes seleksi. Melelahkan sangat melelahkan.

Tibalah saatnya tes seleksi masuk. Tapi, keberuntungan saat itu tidak berpihak kepadaku. Kesempatan membahagiakan orangtua gugur begitu saja. 

"Buk, pak, aku belum berhasil"

"Iya, tidak apa- apa. Bukan rejekimu, mungkin rejekiku ada di tempat lain" kata bapak.

(Ibu mengangguk pertanda setuju akan perkataan bapak)

Hari- hari mulai kulalui dengan seorang pengangguran lulusan SMA yang hanya berdiam diri di rumah. Tapi saat itu tahun 2018 setelah kejadian itu, aku sudah memasukkan lamaran kerja di beberapa tempat. 

Hal tersebut sangatlah kumaklumi, namun jika diingat kegagalan yang aku lalui sangatlah sakit. Dilain sisi bukan karena kalah materi, namun karena kurangnya minat diriku menekuni rencana yang orangtuaku buat. 

Perasaan menjadi dua antara sedih dan juga senang. Sedih karena mengecewakan orangtua, senang karena aku bisa memilih jalan kehidupan sendiri.

Dalam benakku "Aku ya aku, jika aku mempunyai sebuah rencana patutnya aku wujudkan". Begitulah kataku kala itu. Seperti halnya rencana tersebut, aku yang tidak menginginkannya, rencana menjadi seorang tentara wanita, tentunya akan ada kerikil maupun batu yang menyandung kakiku.

Aku mempunyai keinginan dan rencana sendiri dan tentunya hanya aku yang mampu mengendalikan kehidupanku.

Dan benar, sekarang aku mempunyai jalan sendiri untuk menggapai sebuah cita- cita dengan berbagai rencana. Karena pada dasarnya semua yang dilakukan tergantung ada tidaknya sebuah minat. Akan percuma jika rencana tidak timbul dalam diri sendiri, namun karena sebuah paksaan lingkungan. 

Tetaplah semangat menggapai cita- cita yang kamu inginkan, bukan karena paksaan. Karena jalan hidupmu kamu sendiri yang tentukan. 



















Komentar