Pendaki Amatiran : Pesona Gunung Sepikul


Pemandangan Puncak Gunung Sepikul 
 

Saya adalah seorang mahasiswa yang kudet (kurang update). Merantau dari Blora ke Solo dengan tujuan mencari ilmu tidak memberikan banyak waktu luang untuk mengeksplor keindahan kota Solo dari sudut ke sudut. Bahkan rekomendasi kulineran hanya tahu daerah UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) saja. Jika ditanya wisata sekitar Solo, saya menjawab Tawangmangu. Entah itu di Solo atau terletak di kabupaten lain. Tapi selalu rekomendasi yang saya lontarkan pasti "Tawangmangu". Padahal jika dilihat Solo dan sekitarnya itu sangat luas. Saya sendiri orangnya suka berkelana atau jalan-jalan. Tetapi memang teman-teman pada sibuk, terpaksa saya hanya keliling Indonesia lewat beranda Tiktok scrool sampai bawah hingga lupa waktu.

Namun, baru saja bulan lalu saya mendapatkan ajakan dari teman. Katanya dia punya rekomendasi tempat foto yang bisa memacu adrenaline. Belum saya terima ajakannya, karena memang jadwal padat untuk berkegiatan juga kuliah. Dua hari kemudian saya memberi kabar jika menerima ajakan tersebut. Saya semakin penasaran dengan tempat yang dimaksud. Lalu teman saya membagikan maps tentang tempat tersebut.

Dan yang benar saja, teman saya mengajak untuk mendaki gunung. Aku rasa bukan gunung tapi bukit. Tetapi tempatnya seperti gunung. Taulah yang penting kesana dulu. Masalah mendaki atau tidak aku hanya ingin menyegarkan otak selepas berkegiatan. 

Kami berangkat dari UMS ke tempat yang dituju sekitar satu jam setengah, kemungkinan atau bisa lebih. Pasalnya saya memakai google maps yang susah banget buat bacanya. HAHAHA. Karena memang waktu itu saya tidak menghitung jarak pastinya. Saya berangkat sekitar jam 09.00 dimana sinar pagi sedang terik-teriknya. Saya hanya memakai jaket tipis, kulot jeans, kemeja dan flatshoes. Mungkin bakalan mikir, katany tadi mendaki gunung tetapi bajunya casual dan tidak ada persiapan apapun. Aku rasa tidak mengapa, karena tujuanku adalah berwisata dan mencari spot foto yang epic. Masalah nanti susah buat mendaki, lihat aja medannya seperti apa. 

Sampailah saya dan teman saya di tempat wisata yang ditunggu, yaitu Gunung Sepikul yang terletak di kecamatan Bulu, Sukoharjo.  Gunung ini hanyalah dijadikan untuk tempat wisata yang dikelola oleh warga sekitar juga pemerintah desa. Sesampainya di tempat, saya membayar parkir yang dipatok harga per motor Rp. 2000. Di situ saya melihat beberapa pedagang yang menjajakan makanan maupun minuman seperti es teajus, pop mie ataupun air mineral botolan. 

Lalu saya persiapan untuk menuju ke puncak Gunung Sepikul, namun untuk menyiapkan jika nanti haus atau kelelahan, saya membeli es teh plastikan terlebih dahulu. Saya menghela napas saat tau jalan yang akan saya lewati. Memasuki gerbang menuju Gunung Sepikul saya mengisi kotak yang ditunjukkan untuk pengungjung wisata tersebut. Rupanya dipatok harga seikhlasnya. Sungguh tempat yang murah meriah untuk dikunjungi.

Gunung Sepikul memiliki ketinggian 350 mdpl dengan sudut kemiringan 40-60 derajat diatas permukaan laut dengan 2 gunung yang saling berhadapan. Tetapi yang bisa didaki hanya 1 gunung saja. Perjalanan yang saya lewati cukuplah sulit untuk orang yang tidak pernah naik gunung seperti saya. Ada sekitar 50 an anak tangga yang menuntun wisatawan untuk menuju puncak, lalu selepas itu tidak ada tangga lagi. Untuk jalan yang dilalui lebih ke bebatuan kesar, lalu melewati semak-semak. Serta mendaki batuan besar. Saya istirahat sebentar karena memang jalan yang dilewati sangat sulit. 

Kalau saya menghitung perjalanan dari bawah sampai atas kemungkinan 20 menitan. Bisa kurang bisa lebih tergantung pendaki. Untuk saya 20 menit mungkin sangatlah lambat. Maklum karena saya mahasiswa jompo, olahraga saja tidak pernah. Dan ini saya diajak naik gunung. Sungguh momen yang membuat kaum rebahan merasa tertantang.

Setelah berlelah-lelahan melewati jalan yang susah sesampainya di puncak mata saya tidak berkedip sama sekali. Menikmati keindahan kota Sukoharjo lewat Gunung Sepikul. Angin sepoi-sepoi ditambah terik matahari yang mencekam mata. Tetapi terobati dengan keindahan yang memukau hamparan sawah warga sekitar berwarna hijau. 

Sesegera mungkin saya mengabadikan moment tersebut dengan mengambil beberapa jepretan untuk saya isi di feed media sosial. Tetapi harus tetap berhati-hati, karena gunung tersebut sangatlah curam. Jika salah pijak saja bisa saja terjatuh. Setelah mendapatkan beberapa jepretan, saya langsung menuju ke tempat bawah pohon yang sedikit rindang untuk terhindar dari paparan sinar matahari. Sesekali bercengkrama dengan teman saya. 

Setelah puas menikmati keindahan alam dari Gunung Sepikul saya dan teman saya memutuskan untuk turun kebawah. Dan perjalanan melelahkan dan menyenangkan ini selesai. Sungguh hari yang baru bisa mendaki walaupun hanya pendaki amatiran. Gunung Sepikul ini cocok untuk pendaki pemula. Saya menyarankan jika ke tempat wisata tersebut berangkatlah pada sore hari, karena panasnya sudah reda. Saya sarankan bawa bekal yang banyak untuk menikmati keindahan alamnya. Oh iya lupa, jangan buang sampah sembarang di Gunung Sepikul. Sayang banget, tempatnya bagus tetapi masih ada beberapa bungkus plastik yang bercecer. Kalau bawa makanan dari bawah, sampahnya dibawa kebawah lagi. Cintai alam selagi alam itu memanjakan mata kamu. 

Cukup ya ceritaku sampai sini saja dari saya seorang pendaki amatiran, remaja jompo, mahasiswa kudet. See you 

Komentar