Mahasiswa Lulusan FKIP Enggan Menjadi Guru (UAS Artikel Jurnalistik)


Gambar ilustrasi  ( Dokumen pribadi penulis)

Menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Menjadi guru menjamin pahala yang berlipat ganda. Itulah stigma di masyarakat bahwa menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia. Semua orang bisa menjadi guru tapi belum tentu bisa menjadi pendidik. Seorang guru harus bisa mendidik siswanya agar menjadi seorang yang baik serta paham dengan materi yang diajarkan. Dari lembutnya tangan seorang guru dapat melahirkan anak-anak yang akan menjadi sosok penerus bangsa. 

Cukup mencengangkan fakta di lapangan bedasarkan survey yang dilakukan oleh Kampus Guru Cikal (KGC) hasilnya adalah mayoritas guru usia 25-34 tahun secara tidak sengaja menggeluti profesi guru. Hal tersebut dikutip penulis dari laman ngopibareng.com (10/02/22). Dengan hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Pendidikan Guru tetapi tidak berminat untuk terjun ke bidang pendidikan. 

Alasan mahasiswa enggan menjadi guru didasari oleh beberapa faktor. Alasan yang paling dominan ditemui adalah gaji seorang guru tidak banyak. Apalagi guru honorer yang kesejahteraannya diragukan. Selain itu juga terdapat faktor lainnya yaitu anggapan bahwa profesi guru tidak sekeren profesi lainnya, seperti profesi kantoran. Profesi kantoran dianggap keren karena bisa untuk menjadi batu loncatan bagi mahasiswa lulusa FKIP (Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan) yang enggan menjadi guru. Alasan tersebut juga didasari karena banyak mahasiswa yang kurang percaya diri berbicara di depan umum. Padahal seorang guru harus menguasai ilmu publik speaking yang bagus untuk mengajar di depan kelas. Berbagai alasan lain yang sering ditemui yaitu mahasiswa terpaksa mengambil jurusan FKIP karena dianggap mata kuliah yang akan diambil tidak serumit mata kuliah jurusan lain. Padahal jika kita menelisik lebih dalam, justru mata kuliah jurusan pendidikan sangatlah sulit. Selain mengajar juga terdapat mata kuliah tentang bekehidupan yang tidak di dapatkan di jurusan lain. Proses dari kuliah keguruan sampai mendapatkan tempat bekerja untuk menyalurkan ilmu yang dimilikinya merupakan tantangan. Pasalnya banyak sekali saingan dengan bantuan orang dalam dan tidak melakukan proses seleksi. Hal tersebut juga menjadi banyaknya alasan bahwa mahasiswa lulusan FKIP banting stir untuk beralih dari profesi guru. 

Mahasiswa lulusan FKIP enggan menjadi guru juga didasari oleh ruwetnya kebijakan pemerintah terhadap kesejahteraan guru. Gaji guru sangatlah kecil, jika dibandingkan dengan pekerjaan kantoran tentu banyak yang akan memilih bekerja kantoran. Hal lain yaitu bahwa jam mengajar seorang guru tidak ada hentinya. Guru harus selalu siap! Materi yang diajarkan esok harus di rancang dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) serta Modul Ajar. 

Namun, menjadi soerang guru tidak selamanya sengsara. Seorang guru fresh graduate dari kampus UMS yang saya temui adalah Erni. Dia adalah guru muda lulusan UMS tahun 2021 yang mengajar anak SD. Alasan dia menjadi guru adalah melihat profesi guru lebih dekat yaitu bahwa manjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang keren. Menurutnya tidak semua orang dapat menguasai menjadi seorang pengajar. Pada kenyataannya memang menjadi seorang guru harus menguasai berbagai tehnik salah satunya adalah tehnik mengajar yang mengasyikkan. 

Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Guru dituntut untuk mempunyai banyak keahlian, kesabaran, ketelatenan dan juga tanggung jawab. Hal tersebut digunakan untuk terjun dan mengawasi anak-anak yang diajarnya.Menjadi guru juga menjadi panutan. Guru yaitu artian dari digugu lan ditiru. Mau tidak mau kita menjadi guru juga menjadi panutan bagi siswa. Jika terdapat kesalahan yang kita perbuat tentu akan berdampak juga citra kita dimata siswa. Pernyataan tentang menjadi guru penulis kutip dari  buletin Quora.com. Menjadi seorang guru hanyalah cocok untuk mereka yang menyuka tantangan. Proses tanggung jawab seorang guru dapat dinila langsung oleh siswa. Guru tidak boleh menyerah dan senantiasa harus mempunyai kesabaran yang berlebih. Apalagi dijaman sekarang siswa sudah mengikuti perkembangan teknologi. Guru harus bisa mengikuti tantangan tersebut dan memberikan pembelajaran yang mudah serta tidak monoton.

Komentar